Peluk dalam Pikuk
Senja sore kali ini sangat cantik, di tengah kepadatan arus kota aku memandangnya tanpa berpaling, namun pandanganku terpatahkan oleh teriakan seorang bapak tua kepada seorang anak kecil. Dari balik jendela mobil aku melihatnya, seorang anak perempuan berparas jelita dengan tubuh mungilnya berhadapan dengan seorang bapak tua berkemeja biru. Tatapan murka terlihat dari lelaki itu, gadis itu tak berdaya, dirinya tertunduk dalam lesu. Aku tidak tahu jelas apa yang sedang mereka perdebatkan, tapi yang kulihat di depan mobil sang lelaki tua itu ada sebuah sepeda kecil usang yang terbelah menjadi dua bagian. Tak ada lagi bayangan yang terpikir oleh pikiranku selain telah terjadi sebuah insiden kecelakaan yang melibatkan keduanya. Baru saja pintu mobil akan aku buka, tiba-tiba sopir melajukan mobilku karena jalan sudah lebih senggang. Sepanjang jalan pulang pikiranku tak henti memikirkan nasib bocah malang itu, bagaimana jika dia terluka? Pasti bukan hanya fisiknya, tapi batinnya pun ikut juga, sebuah kecamuk dalam pikiran ku sebagai seorang ahli kesehatan.
Saat langit sudah gelap aku sampai di rumah, tatapan ku yang nanar membuat ayahku bingung.
“Putriku ada apa denganmu, apakah harimu ini begitu buruk? Ataukah kamu bertemu dengan pasien anak kecil yang sangat takut disuntik?, katakan pada ayah!” Tanya ayah yang selalu meluangkan waktunya untuk bertukar pikiran denganku. Namun kali ini entah mengapa mulutku rasanya tak berdaya untuk bercerita, aku hanya menjawab pertanyaan ayah dengan senyum simpul dan bergegas ke kamar untuk beristirahat. Entah apa yang dipikirkan ayah setelah itu, aku juga tak tahu ada apa dengan diriku, apakah aku merasa lalai karena meninggalkan korban kecelakaan di jalan tanpa memberinya perawatan medis?. Malam ini aku merenung di atas meja kerja, tiba-tiba ada sebuah ketukan pintu dari luar, aku membukanya tanpa pikir panjang. Alangkah terkejutnya aku saat membuka pintu, sosok ayah yang memakai jilbab dan baju gamis milik almarhumah bunda. Sontak aku memeluknya sambil menangis.
“Putriku, entah apa yang terjadi denganmu hari ini. Ayah tahu kamu sudah dewasa, kamu bisa mengatasi semua sendirian kan? Tapi ayah akan selalu disini untukmu bersama bunda juga.” Cakap ayah sembari membalas peluk hangatku dan menegangkan tangisku.
“Ayah juga tahu, hanya bunda yang bisa memberimu kenyamanan yang sangat saat kamu dalam keadaan kalut, ayah tahu kamu pasti sangat merindukannya.” Tambah ayah sembari berlinang air mata.
“Sekarang bunda sudah di depanku ayah, aku akan bercerita tentang hari ini.” Jawabku sembari mengusap air mata.
Aku menceritakan semua yang terjadi hari ini, mulai dari aku menghadapi pasien pertamaku, seorang anak berusia 5 tahun yang menderita penyakit leukimia hingga saat perjalanan pulang bertemu dengan gadis mungil dengan bapak tua tadi. Tak ada jawaban istimewa dari ayah, dirinya hanya memintaku bersabar dan bersyukur. Entah mengapa aku menjadi sangat rindu bercerita pada bunda, yang selalu memberiku tanggapan istimewa bukan hanya petuah tapi juga sebuah solusi. Hari mulai larut, ayah memintaku beristirahat dan melupakan semuanya.
Paginya, aku terbangun dengan tubuh lemas dan lelah, entah kenapa mungkin karena hari kemarin begitu banyak hal-hal yang membuatku terkejut. Aku mencoba tersenyum saat menatap cermin dan mulai menata hati kembali untuk memulai hari ini. Ayah menyambut pagiku dengan membuatkan sarapan kesukaanku, nasi goreng ala ayah dengan topping bawang goreng dan timun potong berbentuk bunga mekar.
“Selamat pagi putri kecil ayah, nasi goreng kesukaan kamu sudah jadi, silahkan dinikmati.” Sambut ayah dengan senyum merekah.
“Semoga harimu nanti bisa selezat nasi goreng ini dan senyum kamu bisa selalu mekar seperti timun ini ya sayangku.” Ucap ayah sembari memandangku yang sedang makan. Aku tersenyum dan mengamini kata-katanya. Baru saja 2 suap aku menyendok nasi goreng ini, ponselku berdering. Sebuah panggilan mendadak dari rumah sakit yang mengabarkan ada seorang pasien yang sangat membutuhkan pertolongan medisku. Bergegas aku keluar dari rumah meninggalkan piringku dan ayah yang sedang mengambilkan air minum untukku.
Aku mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi, sungguh tak biasanya aku mengendarai mobil seberbahaya ini. Rasa kesalku muncul ketika di tengah jalan bertemu dengan lampu merah yang tak segera menjadi hijau, jalanan menjadi sangat macet. Hampir 10 menit sudah lampu ini tak kunjung hijau ternyata ada sebuah truk yang terguling di depan sana, “Ada apa lagi ini Tuhan, aku ingin hariku lebih baik dari kemarin!” Ucapku di tengah kepanikan. Tiba-tiba ponselku berdering, sebuah panggilan video dari ayah, namun aku memilih untuk tidak mengangkatnya. Berkali-kali ponsel ini berdering tanda ada panggilan dari ayah, namun aku memilih mengabaikannya dan fokus pada jalanan yang merayap ini.
Tok..tok…bunyi terdengar seperti ada yang mengetuk jendela mobilku. Saat ku buka ternyata ada seorang anak asongan yang menawarkan makanan kecil dan minuman kemasan kepadaku. Aku menatapnya dengan sedikit tajam, sepertinya aku tidak asing dengannya. Namun suara klakson dari kendaraan-kendaraan di belakangku memaksaku pergi meninggalkan gadis itu tanpa satu patah kata apapun dan segera melanjutkan perjalanan. Aku tetap menghiraukan ponsel yang terus berdering ini, sepertinya sudah ratusan kali panggilan dan ribuan pesan yang terkirim, tapi aku tidak peduli, yang paling penting aku bisa menangani pasienku tepat waktu.
Sesampainya di rumah sakit, aku langsung menangani pasienku yang merupakan anak penderita leukimia kemarin. Kondisinya kian memburuk, tubuhnya kejang, berbagai tindakan medis aku lakukan, beruntungnya nyawa bocah lelaki ini masih bisa tertolong. Rentetan syukur tak henti terucap dari bibirku, jika aku terlambat 1 detik saja bisa saja nyawa adik kecil ini tidak tertolong. Bila saja jalanan tadi tidak macet atau aku tidak melewati jalan utama pasti aku bisa menangani anak ini dengan segera, pasti kondisinya bisa lebih membaik. Kata maaf terus aku ucapkan kepada ibu si bocah karena aku begitu lalai hingga hampir saja nyawa putranya terancam. Namun dirinya tak permasalahkan hal itu, justru si ibu memelukku dengan erat.
“Dokter Lulu…” peluknya diiringi tangis.
“Semua akan baik-baik saja bu, yakinlah pada Tuhan.” Ucapku menenangkan dirinya.
“Apakah bisa Roki dipulangkan segera saja?” Cakapnya membuatku terkejut. Aku melepas pelukannya dan bertanya.
“Ada apa ibu? Apakah ibu tidak mau putra ibu selamat? Roki sedang sangat kritis ibu, dia tidak bisa melakukan rawat jalan.” Timpalku dengan nada sedikit tinggi.
“Tapi uang dari mana dok, ayahnya pergi saya hidup sendiri, saya hanya seorang buruh cuci setrika yang tidak punya uang banyak!” Teguhnya mengatakan padaku.
Aku sebagai dokter muda yang masih sangat minim pengalaman menangani pasien sangat takut jika pasienku kehilangan nyawa. Aku tak mau jika Roki harus pergi, aku sangat yakin dia bisa sembuh dari penyakit ganas ini.
“Saya akan menjamin biaya Roki di sini bu, saya akan menanggung semua pembiayaan perawatan Roki sampai sembuh.” Jawabku tanpa pikir panjang.
Beliau terkejut, menutup mulutnya dan spontan bersimpuh di kakiku dengan ucapan terima kasih berulang kali. Aku menenangkannya, memeluknya dan berucap “Berterima kasihlah pada Tuhan bu, ini semua dari Tuhan.” Aku memintanya menemani Roki di dalam sementara aku melanjutkan pekerjaanku. Aku menuju ruangan ku, langkahku dihentikan seorang perawat yang mengatakan bahwa ayah mencariku dan sekarang beliau ada di depan ruanganku. Dengan langkah panjang aku bergegas ke sana, aku sangat terkejut, ayah duduk terpaku dan termenung di kursi tunggu depan ruanganku.
“Ayah…” Teriaku panggilnya.
“Lulu sayang, kamu baik-baik saja nak? Kenapa tadi kamu pergi cepat-cepat nak, ayah hubungi juga tidak kamu angkat!” Timpal ayah dengan nada meninggi.
“Ayah…maafkan aku, pasienku benar-benar membutuhkan pertolonganku, aku tidak sempat untuk melakukan itu semua.” Cakapku sembari memeluk ayah.
“Baiklah nak, ayah memahami setiap kondisimu. Maafkan ayah ya. Sekarang lanjutkan makanmu, berkali-kali kamu berkata pada ayah bahwa sarapan itu penting bukan?” Jawab ayah sembari menyodorkan kotak bekal padaku. Aku mengangguk, dan berterima kasih kepada ayah. Aku benar-benar bersyukur Tuhan mengirimkan padaku malaikat seperti ayah, walaupun putrinya telah sebesar ini, tapi rasa sayangnya tak pernah pudar sedikitpun. Baru saja ayah menyodorkan kotak bekal padaku, seorang pasien datang dan aku terpaksa kembali mengabaikan ayah.
“Ayah biar aku bawa saja ya bakal ini, ayah bersegeralah pulang atau ayah bisa pergi untuk menjaga ruko. Aku berjanji akan memakannya.” Pintaku disaat ada seorang pasien datang. Ayah mengangguk dan pergi meninggalkan rumah sakit sementara aku masuk dan menangani pasienku.
Siang ini tepat jam makan siang aku baru sempat membuka bekal dari ayah. Perlahan ku buka kotak bekal ini, senyumku memancar ketika melihat ayah yang dengan cantiknya menata nasi goreng ini berbentuk love, dengan kotak bekal cantik berwarna biru muda kesukaanku. Walaupun nasi goreng ini telah dingin, tapi aku tetap menikmatinya. Tiba saat suapan terakhir aku mendapatkan panggilan dari perawat untuk segera bergegas menuju kamar salah seorang pasien.
“Dokter Lulu… pasien yang berada di kamar nomor 154, dalam kondisi kritis dok!” kabar seorang perawat dalam panggilan telepon.
“Baiklah segera bawa ke ICU. Saya akan segera kesana!” Jawabku dengan buru-buru hingga terlupa meninggalkan kotak bekal makanku di kantin rumah sakit.
Pasienku kali ini adalah seorang pemuda bandel yang ugal-ugalan ketika menunggangi sepeda motornya. Alhasil dia mengalami insiden kecelakaan yang membuat otaknya mengalami pendarahan berat. Kondisinya sempat membaik pasca operasi namun hari ini kembali memburuk, bahkan sangat memburuk.
Hingga pukul 14.00 kondisi pemuda laki-laki ini kian memburuk, detak jantungnya makin melemah hingga 2 menit berselang, bedside monitor tak lagi bisa mendeteksi detak jantungnya. Aku menggunakan berbagai alat untuk memastikan kondisinya baik-baik saja, namun ternyata kami pun harus merelakan bahwa pasien muda ini telah pergi menghadap Yang Kuasa. Kalut bercampur kecewa, mengapa pasien ini harus pergi, aku merasa gagal menjadi seorang dokter. Ibu dari anak muda ini menangis tersedu di atas tubuh anaknya yang tak lagi bernyawa, tangisku pun ikut pecah. Aku meminta maaf pada seluruh anggota keluarga yang ada di sana.
“Sudahlah bu dokter…tidak perlu meminta maaf, ini semua sudah kehendak Tuhan. Dokter sudah melakukan yang terbaik untuk putra kami” ucap salah satu pria dari anggota keluarga itu.
“Tidak pak…rumah sakit ini tidak profesional apalagi dokter-dokter yang ada di sini. Anak kita sebenarnya masih bisa selamat pak!” Ucap ibu dari pasienku.
Dadaku rasanya seperti tertusuk sebuah pedang, entah apa yang terjadi, apakah aku telah membunuh anak ini?. Badanku lemas seketika, air mata mengalir deras di pipiku, namun seorang perawat yang menemaniku merawat pasien ini menarik tanganku keluar.
“Dokter Lulu…tenanglah, kau sama sekali tidak bersalah. Setiap orang akan menemui takdirnya masing-masing dok.” Ucap perawat menenangkanku. Aku berlari meninggalkan dirinya dan pergi menuju toilet. Di sana aku meratapi diriku di depan cermin.
“Bunda…aku ingin bunda di sini.” Rintihku sembari menggenggam erat kalung mutiara milik bunda yang aku pakai.
Jam jagaku kali ini sudah habis, waktunya untuk pulang, rasanya raga ini tak sanggup membawa mobil ini sendiri. Perjalanan pulang ini semakin membuat air mataku mengalir bebas. Ditengah perjalanan pulang, tubuhku rasanya lunglai, tak sanggup lagi aku membawa mobil ini sampai ke rumah. Aku memutuskan untuk berhenti tepat di sebuah pinggir jalan yang ramai dengan pedagang kaki lima dan duduk di bangku besi yang ada di trotoar jalan. Diriku terdiam dengan tatapan kosong, pikuk pikiranku terhempas ketika datang seseorang yang menepuk pundakku dengan sedikit teriakan.
“Kakak…” teriaknya mengejutkanku.
“Astaga, iya adik ada apa?” Sontakku terkejut.
“Kakak mau jajan?” Tawarnya penuh keramahan.
“Tidak adik, kakak sudah kenyang.” Tolakku dengan perlahan.
“Baiklah.” Jawabnya dengan sedikit kecewa dan meninggalkanku.
“Adik tunggu!” Cakapku sembari memegang tangannya tuk hentikan langkahnya.
Aku merasa tak asing dengan gadis ini. Pikirku sedang benar-benar kacau hingga aku tak mengingat apapun tentang dirinya. Namun pikirku hanya mau satu, berkenalan dengan dirinya dan memintanya bercerita.
“Duduklah disini bersamaku. Siapa namamu?” Tanyaku pada gadis mungil ini.
“Nama aku Ratih kak.” Jawabnya dengan senyuman.
Mataku tak bisa berpaling dari parasnya, pikirku tiba-tiba tersentak, aku mengingat suatu kejadian yang terjadi kemarin.
“Apakah kamu kemarin mengalami kecelakaan?” Tanyaku mengingat kejadian 24 jam yang lalu.
“Tidak kak.” Jawabnya sambil menggeleng-gelengkan kepala.
Aku berusahalah mengingat lagi, apakah kacaunya pikirku saat ini membuatku bisa mengarang cerita?, aku rasa tidak.
“Bukanlah kamu yang kemarin sore dimarahi oleh seorang bapak tua?” Tanyaku lagi untuk memastikan.
“Ohh.. itu kak, kemarin itu sepedaku tak sengaja aku sandarkan di mobilnya hingga membuat mobilnya yang katanya masih baru itu tergores. Dia kemudian melempar sepedaku hingga terbelah menjadi dua, dan aku datang lalu dimarahi.” jawabnya dengan wajah penuh kesedihan.
Ternyata aku salah menduga, pikirku sedikit tenang sekarang.
“Kakak hebat sekali bisa meramal. Memang kakak sekolah di mana?” Tanyanya dengan lugu.
“Kakak tidak meramal dik, kemarin kakak melihatmu. Oh ya sekarang kamu kelas berapa?” Jawabku diiringi tawa kecil.
Dia terdiam tertunduk dan aku kembali bertanya padanya. Terkejutnya aku ketika dia berkata sudah putus sekolah karena tidak memiliki biaya lagi.
“Orang tuamu dimana?” Tanyaku dengan serius.
“Ayah sedang mulung, ibu…” ketika mengucapkan kata ibu sontak dia memelukku dengan erat dibarengi sebuah tangisan. Pelukku menenangkan dirinya, entah apa yang dia alami sampai air mata tak mampu ia bendung. Perlahan dia mulai tenang dan bercerita padaku.
“Ibu sudah meninggal kak…saat dia mengantarkan aku sekolah, aku hampir saja tertabrak sebuah truk, tapi ibu menyelamatkanku tapi dia….” Cakapnya sembari terisak tanpa menyelesaikan kalimatnya.
Malang sekali nasibnya, sepertinya anak sekecil Ratih belum bisa jika hidup tanpa sosok ibu. Tangisnya beriringan dengan tangisku kala aku mengingat almarhumah bunda yang meninggal sebelum melihatku memakai jas dokter impianku. Sungguh berat menjadi Ratih, keinginan ibunya mengantar putri kecilnya berangkat sekolah harus musnah kala ternyata Tuhan lebih menyayangi dirinya.
“Apakah kamu masih mau bersekolah?” Tanyaku dengan tenang.
“Ibu selalu bilang. Apapun yang terjadi padaku, aku harus tetap bersekolah. Tapi itu tidak bisa aku lakukan kak…” jawabnya penuh kesedihan.
Entahlah aku begitu sakit mendengar kata-kata ini, bunda juga selalu mengatakan hal yang sama padaku. Aku bisa menjalankan wasiat bunda dengan baik, namun bagaimana dengan Ratih? Dia harus melanggar perintah ibunya karena dipaksa oleh keadaan.
“Jika kamu masih memiliki semangat yang sama, kakak mau menyekolahkan kamu lagi.” Cakapku sembari memegang tangan mungilnya.
Dia tersentak matanya menatapku dengan berbinar.
“Benarkah itu kak?” Tanyanya tak percaya.
“Kamu tidak percaya sama kakak?” Jawabku dengan sedikit candaan. Dia memelukku erat sembari mengucapkan terima kasih berkali-kali. Aku akan mengajaknya menuju salah satu sekolah swasta milik temanku. Di dalam mobil dia begitu takjub, mungkin Ratih belum pernah menaiki mobil sebelumnya. Sesampainya di sekolah, aku berbicara pada sahabatku mengenai kondisi anak ini. Dia mau memberikan pendidikan secara gratis sampai dia lulus, namun dengan persyaratan Ratih harus belajar dengan sungguh-sungguh. Gadis kecil ini mengiyakan dan sangat senang berkali-kali dia memelukku diiringi ucapan terima kasih.
Setelah dari sekolah aku mengantarkan Ratih pulang. Sedikit terkejut melihat kondisi rumahnya, sepertinya rumah ini sudah tidak layak huni, dinding dari jalinan bambu sudah banyak yang jebol, atapnya pun dari asbes bekas yang sudah berlubang-lubang. Bagaimana bisa mereka hidup di tempat ini. Saat aku masuk ke dalam rumahnya, aku bertemu seorang pria yang tak lain dan tak bukan adalah ayah Ratih. Aku memberitahunya bahwa Ratih sudahku daftarkan sekolah, dia begitu bahagia mengucapkan syukur tak henti dan terima kasih kepadaku. Hari sudah mulai larut aku memutuskan untuk berpamitan dan pulang ke rumah. Aku sangat bahagia bisa membantu keluarga kecil ini.
Sesampainya di rumah aku melihat ayah yang sedang menonton televisi.
“Lu, dari mana kamu nak. Tumben sekali kamu tersenyum bahagia seperti itu?” Tanya ayah keheranan. Aku menceritakan semua kejadian yang terjadi hari ini, banyak tangis dan tawa, banyak syukur dan keluh tapi aku akhiri hari ini dengan bahagia karena bisa membantu sesama.
“Ayah bangga padamu nak, hidup itu seperti roda yang berputar, kadang di atas dan dibawah. Percayalah pada kehendak Tuhan. Kamu tidak bisa menginginkan sesuatu terjadi bila Tuhan tidak menginginkannya pula. Perihal nyawa, setiap orang sudah diatur takdirnya putriku, kematian akan menghampiri siapapun tanpa pandang usia.” nasehat ayah menanggapi ceritaku.
“Ayah tahu kamu begitu hebat dan begitu sibuk, sampai kamu terlupa meninggalkan kotak bekalmu di kantin rumah sakit kan? Untung saja ayah menemukan jika tidak kamu akan menangis tersedu-sedu ketika kotak ini hilang kan?” Kata ayah sembari menyodorkan kotak bekalku.
“Bagaimana ayah bisa mengambilnya?” Tanyaku keheranan.
“Sebenarnya ayah tadi tidak pulang, atau kembali ke ruko. Ayah tetap berada di sana dan memotret setiap kesibukanmu. Lihatlah ada banyak foto di kamera ayah.” Ucap ayah sambil menunjukkan kamera kesayangannya padaku. Ayah memang sangat suka fotografi, dia selalu berusaha memotret setiap hal-hal yang menurutnya menarik. Aku memeluknya dan berterima kasih atas semua kebaikannya selama ini. Ditengah kebersamaan ku dengan ayah, terdengar sebuah ketukan pintu dari luar rumah. Aku membukanya dengan sedikit keheranan, siapa yang akan bertamu semalam ini. Terkejutnya aku melihat ada keluarga dari pasien pemuda yang meninggal tadi siang. Sang ibu berlutut padaku dan meminta maaf padaku. Aku menggapai tangannya dan berkata tak perlu minta maaf itu adalah reaksi spontan ketika seorang ibu harus merelakan anaknya pergi selamanya. Dirinya memelukku dan meminta maaf, tapi aku sangat memaha
mi kondisinya, seperti kata ayah semua orang akan menemui takdirnya masing-masing.
Komentar
Posting Komentar